background

Minggu, 12 Mei 2013

Pancasila Sebagai Landasan Pendidikan Karakter



Unej warna
Pancasila Sebagai Landasan Pendidikan Karakter
Materi diskusi kuliah Umum Pancasila
rabu pukul 18:00 ruang 1




disusun oleh:
Winda Faidatul Nurhasanah (120210103045)
UNIVERSITAS JEMBER
Semester gasal 2012/2013



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena rahmat-Nya lah kelompok kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terimakasih kami ucapkan kepada bapak  Azdkiyah yang telah membimbing kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan. Serta terimah kasih pula kepada rekan-rekan yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan makalah ini.
Makalah bejudul “Pancasila Sebagai Landasan Pendidikan Karakter” ini, kami susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila.
Kami sadar bahwa “Tiada Gading yang Tak Retak”, begitu pula dengan tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat mendekati sempurna.





Jember, 10 Oktober 2012



Penyusun


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang      
Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, definisi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara afektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat dan negara. Kondisi pendidikan saat ini mengalami kemrosotan sosial contohnya saja banyak terjadi tawuran antar pelajar yang mengakibatkan jatuhnya korban, sehingga perlu diberikan pendidikan berkarakter untuk mengembalikan citra pendidikan sesuai hakikat pendidikan yang sebenarnya. Salah satu pendidikan yang bernilai karakter yaitu memasukkan nilai-nilai pancasila, sebab dalam pancasila mengandung berbagai nilai yang dapat membangun karakter objek pendidikan yaitu pelajar memiliki karakter yang lebih bermoral.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa arti pendidikan karakter ?
2.      Bagaimana peran pancasila sebagai landasan pendidikan karakter ?
3.      Apa ciri-ciri karakter bangsa Indonesia ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.      Menguraikan definisi dari pendidikan karakter
2.      Mengetahui peranan dari pancasila di dalam pendidikan karakter
3.      Mengetahui ciri-ciri dari karakter bangsa Indonesia


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pancasila Sebagai Landasan Pendidikan Karakter
Melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur Pancasila, para generasi muda akan dapat menjadi warga negara yang baik yang mampu memahami hak dan kewajibannya, memahami ideologi negara secara utuh dan benar. Melalui pendidikan karakter berbasis Pancasila ini, para generasi muda  mampu menjadi warga negara Indonesia yang baik, cerdas, terampil, dan berkarakter sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain pendidikan karakter mengajarkan bangsa ini, pemuda negeri ini, untuk berpikir cerdas sehingga mampu mengatasi berbagai macam masalah baru yang ada, meningkatkan kemampuan untuk berbaur dengan bangsa lain dengan tetap mempertahankan identitas dan budaya bangsanya.
 Pancasila mempunyai tujuan yang salah satunya yaitu sebagai pandangan hidup bangsa. Bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu dijadikan landasan pokok dalam berpikir dan berbuat, dan hal ini mengharuskan bangsa Indonesia untuk merealisasikan nilai-nilai Pancasila itu kedalam sikap dan perilaku baik dalam perilaku hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah satunya dengan menerapkan pendidikan berkarakter. Dengan berlandaskan pancasila maka tingkah laku kita akan terlindungi dari hal-hal yang tidak sesuai dengan pancasila, dikarenakan saat ini sudah berkembang tentang kenakalan remaja dalam masyarakat seperti perkelahian masal (tawuran). Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut juga terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.
Pendidikan karakter tidak saja merupakan tuntutan Undang-Undang dan peraturan pemerintah, tetapi juga oleh agama. Hal itu dicerminkan dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Pembangunan karakter bangsa mempunyai tujuan yang salah satunya yaitu untuk mengembangkan karakter bangsa sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  Sebagai bangsa Indonesia kita harus mempunyai karakter yang sesuai dengan pancasila, jadi setiap aspek karakter yang diberikan harus dijiwai oleh ke lima sila Pancasila secara utuh. Pendidikan karakter pada dasarnya dapat diberikan dalam setiap pembelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan pancasila perlu dikembangkan antara lain materi tentang norma atau ilai-nilai sehingga karakter seseorang yang sesuai dengan pancasila dapat dibentuk dari proses pembelajaran.
Membangun karakter adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, ahlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan  tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
2.2 ciri-ciri karakter bangsa indonesia
Bangsa Indonesia memiliki ciri-ciri karakter antara lain:
1.      Saling menghormati & saling menghargai
2.       Ada rasa kebersamaan & tolong menolong
3.       Ada rasa persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa
4.       Ada rasa peduli dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa & bernegara
5.       Adanya moral, ahlak yang dilandasi oleh nilai-nilai agaman












BAB 3
PENUTUP
3.1Kesimpulan                     
            Definisi dari Pendidikan Karakter yaitu mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan karakter yang berlandaskan pancasila sangat penting bagi bangsa indonesia karena dapat membentengi diri dari berbagai fenomena kehidupan yang negatif. Hal tersebut ditunjukan karena pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
3.2 Saran
Diharapkan kepada pembaca bisa mengaplikasikan pendidikan karakter yang berlandaskan pancasila. Bisa memahami pancasila dari segi pendidikan yang ada di negara kita.



DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang No 20 Tahun.2003.sistem Pendidikan Nasional.Jakarta:Depdiknas

Kamis, 02 Mei 2013


PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
“Pentingnya Pendidikaan Karakter Bagi Siswa”















 







Nama: Winda Faidatul Nurhasanah
NIM: 120210103045

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang
Pada hakikatnya, manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kehidupannya, baik untuk meningkatkan pengetahuan, maupun untuk mengembangkan kepribadian dan keterampilannya. Untuk meningkatkan kehidupannya itu, manusia akan selalu berusaha mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Usaha itu disebut dengan pendidikan. Dalam GBHN 1973, dikemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia yang dilaksanakan di dalam maupun diluar sekolah.
Pendidikan lebih idealnya didapatkan dalam keluarga, karena lingkungan pertama yang didapati oleh anak setelah lahir adalah lingkungan keluarga. Dalam masa tumbuh kembang anak, peran keluarga sangat menentukan keberhasilan anak dalam meningkatkan kemampuan yang ada pada dirinya, baik kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan maupun kemampuan untuk mengembangkan kepribadian. Namun, pendidikan keluarga saja tidak cukup untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan luar keluarga juga dibutuhkan dalam meningkatkan kemampuan tersebut, salah satunya adalah pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan salah satu sarana untuk membantu keluarga dalam meningkatkan kemampuan yang ada pada anak. Salah satu unsur terpenting dari pendidikan di sekolah adalah adanya pendidik atau guru.

1.2            Rumusan masalah
1.      Apa definisi dari pendidikan dan pendidikan karakter?
2.      Bagaimana peranan guru dalam pembentukan karakter siswa Sekolah Menengah ?
3.      Apa kebutuhan khas dari remaja?


1.3            Tujuan dan manfaat
1.      Mengetahui definisi dari pendidikan dan pendidikan karakter
2.      Mengetahui peran guru dalam pembentukan karakter siswa Sekolah Menengah
3.      Mengetahui kebutuhan khas dari remaja





















BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

Pendidikan dan pendidikan karakter
Pendidikan merupakan hak bagi semua warga Negara Indonesia. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan SDM yang berkualitas dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Hidayatullah, Furqan. 2010)
Pendidik atau guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peran guru dari segi ilmu adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (Gunarsa, S. D.1989) . Dengan adanya peran tersebut, guru harus memiliki wawasan kependidikan yang luas dan menguasai berbagai strategi belajar mengajar sehingga pengetahuan dan keterampilan tersebut dengan mudah diberikan kepada peserta didik. Peran ini baru dilihat dari segi ilmu yang diberikan kepada peserta didik, bagaimana dilihat dari segi prilaku dan kepribadian peserta didik. Pada hakikatnya pendidikan di sekolah itu tidak hanya melakukan usaha transfer ilmu dari guru ke peserta didik saja, namun pendidikan sekolah juga melakukan usaha pembentukan prilaku dan pribadi peserta didik. Seorang pendidik atau guru diharapkan tidak sekedar transfer ilmu kepada peserta didik, melainkan menanamkan kepribadian baik kepada peserta didik. Guru belum bisa dikatakan sukses mendidik, jika peserta didik hanya memiliki kecerdasan intelektual saja. Guru dikatakan sukses, jika peserta didiknya memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh sebab itu, pendidikan sekolah juga diharapkan memiliki program yang bisa dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik (Sardiman.2001).

Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik
Membangun karakter adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, ahlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan  tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Pembentukan karakter anak memang semestinya dilakukan oleh orang tua. Namun, ketika anak berada di sekolah, maka yang menjadi orang tua anak adalah guru. Sehubungan dengan perannya sebagai pembentuk karakter anak di sekolah, maka guru dituntut untuk sungguh-sungguh menjalankan peran tersebut, karena salah membentuk karakter anak akan berakibat fatal bagi kehidupan anak (Mappiare, 1982). Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa guru adalah orang tua kedua dari peserta didik, sehingga ketika peserta didik jauh dari orang tuanya, peserta didik masih mendapat bimbingan dari guru seperti halnya mereka dapatkan dari orang tua. Pada siswa sekolah menengah atas merupakan masa-masa remaja yang sangat labil. Siswa SMA masih membutuhkan bimbingan untuk melakukan sesuatu hal agar dapat terhindar dari perilaku yang menyimpang. Pada saat ini banyak perilaku menyimpang dari peserta didik misalnya saja tawuran dan seks bebas, hal itu merupakan PR dari seorang guru untuk dapat memberikan solusi agar para siswa SMA dapat terhindar dari permasalahan tersebut. Guru Sekolah Menengah harus memahami perkembangan dan pertumbuhan dari peserta didiknya karena jika sudah mengetahui perkembangan dari peserta didiknya maka guru dapat membentuk karakter secara perlahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dari Siswa Sekolah Menengah. Remaja sangat peka sekali terhadap stres, frustasi, dan konflik, bukan saja yang berhubungan dengan dirinya, tetapi juga dengan lingkungan pergaulannya. Oleh karena itu, cara mengambil keputusan dan penyelesaikan persoalan yang diajarkan oleh orang yang lebih tua pada usia lebih muda pada anak, sangat berguna bagi diri remaja  (Lydia Harlina. 2006).
Pendidikan pancasila dapat dijadikan sebagai sarana dalam pembentukan karakter peserta didik, karena pancasila mengandung nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peserta didik yang pada hakikatnya adalah warga negara Indonesia. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila sehingga terciptalah generasi bangsa yang cerdas dan bermoral. Remaja yang pembentukan karakternya tidak sesuai dengan pancasila akan mudah terjerumus dalam perilaku yang menyimpang yaitu:
1.      Tawuran
2.      Seks bebas
3.      Narkoba

Remaja memiliki kebutuhan yang khas yaitu:
  1. Remaja merasa butuh untuk mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal untuk bekerja (yang menghasilkan uang).
  2. Remaja sangat memerlukan informasi untuk memelihara kesehatan dan kesegaran fisiknya.
  3. Remaja membutuhkan suatu informasi atau pengetahuan tentang hak dan kewajiban seorang warga negara yang baik.
  4. Butuh informasi tentang peranan ilmu pengetahuan (science) bagi kehidupan manusia.
  5. Memerlukan bagai mana cara memanfaatkan waktu luangnya dengan baik.
  6. Membutuhkan pengetahuan tentang cara mengembangkan rasa hormat kepada oranglain.
  7. Membutuhkan wawasan dan pengetahuan untuk mampu berpikir secara rasional.

Ada beberapa hal yang harus diupayakan oleh guru Sekolah Menengah dalam pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai pancasila, antara lain sebagai berikut: (1) Memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan peserta didik. (2) Membiasakan peserta didik untuk berprilaku baik. (3) Menanamkan nilai persatuan kepada peserta didik. (4) Menanamkan sikap toleransi dan tenggang rasa. (5) Membiasakan untuk bermusyawarah dalam menyelasaikan masalah. (6) Menumbuhkan sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab kepada peserta didik. (7) Berusaha menjadi teman atau sahabat di sekolah (Yusuf, S. 2004).
Sebenarnya, upaya pembentukan karakter anak merupakan hal yang tidak mudah dijalankan oleh seorang guru. Guru akan kesulitan dalam membentuk karakter anak, jika tidak ada dukungan dari keluarga dan masyarakat yang ada di lingkungan peserta didik. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara guru, keluarga dan masyarakat (Azzet. 2011).

Tanggung jawab besar maka penghargaan pun harus besar

Guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, pernyataan ini menunjukkan bahwa jasa seorang guru sangatlah besar dalam mendidik dan mengajar peserta didik agar menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter. Guru harus memikul tanggung jawab besar dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan menciptakan generasi penerus yang dapat memajukan kehidupan bangsa (Yusuf, S. 2004).
Tanggung jawab yang besar dari seorang guru hendaklah dibalas dengan penghargaan yang besar pula karena memikul tanggung jawab dan amanah yang besar merupakan suatu hal yang sulit dijalani. Ibarat memikul karung beras yang beratnya sekian kilogram, sering kali pundak merasakan sakit yang luar biasa, namun demi hajat orang banyak, seberat apapun beban di pundak akan diusahakan agar sampai ke tempat tujuan. Begitu pula halnya guru, tanggung jawab yang demikian berat harus dipikulnya demi kepentingan orang banyak dan demi terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa. Penghargaan besar hendaklah diberikan kepada para guru yang berjuang untuk kesejahteraan negeri. Penghargaan terhadap guru merupakan wujud dari penghargaan terhadap negri karena jasa guru dapat menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter (Yusuf, S. 2004).























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Remaja merupakan saat dimana kondisi emosinya masih labil. Oleh karena itu remaja membutuhkan perhatian khusus oleh orang-orang disekitar. Remaja juga memiliki kebutuhan khas dalam hidupnya. Dengan keadaan emosi yang labil remaja dapat terjerumus dalam perilaku yang menyimpang. Untuk mencegah terjadinya perilaku yang menyimpang maka dibutuhkan pendidikan berkarakter.
            Membangun karakter adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, ahlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan  tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Pancasila mengandung nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pembentukan karakter Guru Sekolah Menengah harus memahami perkembangan dan pertumbuhan dari peserta didiknya karena jika sudah mengetahui perkembangan dari peserta didiknya maka guru dapat membentuk karakter secara perlahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dari Siswa Sekolah Menengah.

3.2  Saran
Berdasarkan uraian atau kajian diatas maka duharapkan seorang guru dapat meningkatkan kinerjanya dalam membentuk karakter dari peserta didik khususnya siswa Sekolah Menengah berdasarkan pancasila. Selain itu seorang guru juga dapat memehami pertumbuhan dan perkembangan dari peserta didiknya dan mengetahui penyimpangan apa saja yang dapat dilakukan oleh remaja jika pembentukan karakternya tidak sesuai dengan pancasila.







DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, S. D.1989. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung
         Mulia.
Hidayatullah, Furqan. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.
Lydia Harlina. (2006). Pendidikan karakter remaja. Jakarta: Balai Pustaka
Mappiare, 1982. Adolescence (Terjemahan) . Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sardiman.2001.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafinda Perkasa
Yusuf, S. 2004. Guru pembentuk karakter. Bandung : PT Remaja
        Rosdakarya
Azzet. 2011. Guru: Sahabat dalam Belajar (diakses tanggal 15 Desember 2012).